Tokoh

Marsda TNI Subandrio

Presiden melantik Marsekal Madya Soebandrio menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Udara menggantikan Marsekal Herman Prajitno yang memasuki masa pensiun. Bersamaan dengan pelantikan Agustadi Sasongko menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat menggantikan Jenderal Djoko Santoso yang dilantik menjadi Panglima TNI menggantikan Marsekal Djoko Suyanto di Istana Negara, Jakarta, Jumat (28/12/2007).

Kalender Kegiatan
Maret 2019
S S R K J S M
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

T O K O H

Marsekal TNI Herman Prayitno

Marsekal TNI Herman Prayitno menjadi Kepala Staf TNI AU (Kasau) menggantikan Marsekal TNI Djoko Suyanto, dilantik di Istana Negara, Jakarta, Senin (13/2/2006). Pada kesempatan itu Marsekal TNI Djoko Suyanto juga dilantik Presiden menjadi Panglima TNI menggantikan Jenderal TNI Endriartono Sutarto. Kemudian, dia digantikan Marsda TNI Subandrio yang dilantik Jumat (28/12/2007).

Upacara pelantikan Marsdya TNI Herman Prayitno menjadi Kepala Staf TNI AU (Kasau) dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, para menteri, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, dan Ketua DPR Agung Laksono, serta sejumlah pejabat lainnya. Mantan Kepala Staf TNI AD (Kasad), Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, tidak hadir dalam acara pelantikan ini.

Herman Prayitno, S.IP, MM, kelahiran Yogyakarta, 9 Januari 1951, ini diterima menjadi Calon Prajurit Taruna 1970 dan dilantik Presiden RI 1973. Selanjutnya mengikuti Pendidikan Sekbang dilantik tahun 1976 dan Kursus Para Dasar Khusus, 1998. Dalam pendidikan umum, dia meraih gelar S1Ilmu Politik dari Universitas Terbuka (1996) Magister Manajemen (S2), 2001.

Sebelum menjabat Kepala Staf TNI-AU (dilantik 13 Februari 2006), Herman menjabat Wakil Kepala Staf TNI-AU (Wakasau) sejak tanggal 24 Maret 2004. Sebelumnya, lulusan Lemhannas KSA 2000, ini menjabat Komandan Sekolah TNI, 2003-2004, Asisten Personil Kepala Staf TNI AU, 2003, Panglima Komando Operasi AU I dan Gubernur Akademi Angkatan Udara, 2001-2002.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya mengingatkan agar TNI tidak terseret kembali ke wilayah politik. Reformasi di TNI adalah tidak terlibatnya lagi dalam wilayah politik. Apalagi sekarang masih ada jenderal, marsekal, dan laksamana yang tergoda untuk berpolitik.

Presiden berharap roh reformasi, yang menuntut TNI netral dan terbebas dari politik praktis, dilaksanakan. Presiden tidak ingin TNI bermain api dalam kegiatan politik.

Presiden menyadari dalam masa transisi ini masih ada jenderal, marsekal atau laksamana yang tergoda untuk masuk ke wilayah politik. "Mari kita ukir sejarah, jangan sampai itu terjadi dan terulang kembali. Ada masa-masa yang memerlukan ketegaran dan netralitas segenap pimpinan TNI untuk tidak terseret kembali atau main-main api dalam kegiatan politik. Tetaplah netral. Selamatkan prajurit dan satuan TNI yang kita cintai," kata Presiden

Selain itu Presiden meminta pimpinan TNI untuk memperhatikan kesejahteraan prajurit yang menjadi prioritas agar kesejahteraan mereka layak sesuai kemampuan negara. Presiden meminta dilakukan pembinaan prajurit TNI dan dimodernisasi peralatan persenjataan (alutsista).

Dalam pengadaan peralatan dan modernisasi persenjataan, Presiden meminta dilakukan sesuai dengan kemampuan negara dan kebutuhan. Dalam hal pengadaannya sudah ada mekanisme dan prosedur sesuai aturan yang semuanya melalui Departemen Pertahanan. Karena itu Presiden meminta semuanya dilakukan secara transparan dan mengutamakan produksi dalam negeri.

TOKOH LAINNYA :